Kamis, 07 Februari 2013

Sudah biasa

1 menit.. 2 menit.. 3menit.. tak kulihat balasan pesan darimu. sampai akhirnya kuputuskan untuk menelpon kamu. tut..tut..tut.. tidak ada jawaban.
1 jam.. 2 jam.. 3 jam.. masih belum terlihat tanda-tanda munculnya dirimu dihandphone aku. kuputuskan kembali untuk menelfon dirimu. tidak ada jawaban. kucoba berulang-ulang kali. masih saja tidak ada jawaban.
Kemana dirimu? sedang apa? tidak kah kau berpikir? aku disini menunggumu. menunggu kabar yang aku pun tidak tahu kabar baik atau buruk yang akan aku dapat nanti.
Gelisah, pucat, tidak bergairah, merenung dan diam. iya itulah hal yang aku lakukan disaat kau menghilang secara tiba tiba.
Waktu menunjukan pukul 2 dini hari. ku lihat handphoneku. ku tekan angka demi angka password untuk membuka hanphone ini. ternyata benar dugaanku. masih tidak ada kabar darimu,sama sekali. masih terdiam dan menatap langit. tak kuduga mulut ini sudah berkomat kamit berdoa meminta pertolongannya untuk menjagamu. "Tuhan.. jaga dia,apapun yang terjadi. jangan biarkan dia pergi. jangan ambil dia dariku secepat ini. sungguh,aku tak sanggup kalau akhirnya waktu itu harus tiba dikehidupanku kelak. aku mohon berilah kekuatan padanya" (sepenggal doaku)
Tak lama kemudian kulihat jam di dinding kamarku. pukul 04.00. iya, sudah jam empat dini hari. dan aku masih belum bisa memejamkan mata. dipikiranku hanya ada dia dia dan cuma dia. waktu terus berjalan sampai akhirnya aku tertidur pulas. tidak ada mimpi yang terlintas ditidurku. setidaknya itu lebih baik daripada mendapatkan mimpi buruk, apalagi tentang dia.
Sekitar pukul 10 pagi mata ini pun terbuka. hal pertama yang aku cari adalah handphone. kembali aku tekan angka angka dilayar ini. ternyata ada banyak pesan yang tampil. tentu bukan pesan darinya melainkan dari kakak dan adiknya. "ka, kakaku pingsan dikamar. sekarang kami sekeluarga sedang berada dirumah sakit" (pesan dari adiknya)
"de, yani dirumah sakit. semalam dia tak sadarkan diri dikamarnya. jangan khawatir ya de. mohon doanya" (pesan dari kakaknya)
Tes.. tes.. tes.. air mata ini mengalir begitu saja. dari yang lambat menjadi deras bahkan terdengar suara teriakan dan suara seperti orang sesegukan. iya, suara itu keluar dari bibirku. berdoa dan terus berdoa yang dapat aku lakukan saat itu. sms, telfon pun tidak digubris oleh kakak dan adiknya. aku tahu mungkin mereka sedang panik sama sepertiku tetapi aku tak dapat mengendalikan perasaan ini. aku takut. takut akan hal yang paling aku takutkan. takut ditinggalkan. iya aku takut sekali.
Tidak hanya sekali dua kali kau begini. sejujurnya aku mengerti akan keadaanmu dan sejujurnya lg takut itu terus menghantui benakku. ku mohon jaga kondisi mu. jaga kesehatan mu, demi kita yang selalu mencintaimu.

By, Lorencia Tirtasari
Thank you..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar